Sunday, June 8, 2014

Ngetrip Bareng Komunitas Traveling

Merecanakan traveling tapi sendirian? coba ikutan saja trip bareng komunitas traveling.  Selain bisa melepas kepenatan , juga menambah teman.

Nah ini nih cerita seru traveling bersama komunitas traveling.  Simak ceritanya dibawah ini. Dan simak juga tentang Komunitas Backpacker Dunia di postingan kita sebelumnya.

Langit malam menutup kawasan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Ketika itu pukul enam sore. Lampu taman baru saja menyala. Puluhan orang berkumpul di sayap barat taman, tidak jauh dari pancuran air. Tubuh mereka membentuk formasi lingkaran. Masing-masing memegang biola atau cello sambil menatap buku partitur berpenyangga. Komposisi klasik karya Antonio Vivaldi, Opus 3, L'Estro Armonico, pun mengalun. "Setiap pekan, kami berlatih di sini," ujar Fanny Tsalasa, 23 tahun, Ketua Komunitas Taman Seni (Kotaseni), Sabtu dua pekan lalu.

Sudah lima tahun komunitas itu berdiri. Saban pekan, tak kurang dari 50 anggota komunitas ini memanfaatkan taman seluas lapangan sepak bola itu untuk berlatih musik. Tidak hanya biola atau cello, instrumen musik modern pun kadang mereka mainkan. Sesi latihannya dimulai sejak sore hingga malam. Anggota mereka berasal dari berbagai kalangan, dari mahasiswa hingga pegawai kantoran. Komunitas ini bahkan punya divisi tersendir yang memfasilitasi minat terhadap sastra dan seni rupa. "Setiap tiga bulan, kita bikin pameran di sini," ujarnya.

Kotaseni adalah satu di antara banyak komunitas yang kerap memanfaatkan Taman Suropati sebagai ajang berkumpul. Berbagai komunitas lain, seperti Komunitas Indonesia Pizza Spinning dan Komunitas Otter Indonesia, juga bisa ditemui di sini. Denyut aktivitas mereka ikut menghidupkan suasana taman dari pagi hingga malam. Siapa pun bisa ikut, asalkan punya hobi yang sama. Bagi sebagian warga Jakarta, menghabiskan waktu di akhir pekan bersama komunitasnya bisa jadi pilihan yang menyenangkan.

Taman dan ruang publik merupakan habitat bagi berbagai komunitas. Di sanalah mereka berkumpul, berbagi wawasan, dan berkarya sambil menghabiskan waktu di akhir pekan. Pameran instalasi yang digelar komunitas Lensa Pagi, dua pekan lalu di kawasan Kota Tua, merupakan contoh lain. Meski acara bersifat temporer, anggota komunitas penggemar fotografi ini bahkan ada yang berasal dari pulau seberang. "Kebetulan saya lagi mau belajar fotografi di sini," ujar Aryanda Septian, 22 tahun, anggota komunitas Lensa Pagi dari Sumatera Utara.

Kegiatan seni hanyalah satu pilihan. Banyak cara lain yang dijalani warga Jakarta untuk mengisi waktu libur. Jika berminat pada wisata sejarah dan budaya, Anda bisa bergabung dengan Komunitas Historia Indonesia. Sejak berdiri pada 2003, komunitas ini menggelar berbagai wisata edukatif dengan cara yang tidak lazim. Suatu waktu, mereka pernah menggelar Tour de Busway. Para anggotanya diajak naik bus Transjakarta koridor Blok M-Kota dan singgah di sebelas tempat bersejarah yang tidak jauh dari haltenya.

Gedung Arsip, yang pernah berfungsi sebagai kantor Gubernur Hindia Belanda, dan bangunan kuno berarsitektur Cina, Chandra Naya, yang saat ini terkurung di dalam bangunan sebuah hotel di kawasan Gajah Mada, adalah sebagian di antara tujuan wisata mereka. Di setiap tempat yang mereka singgahi, para pemandu akan menjelaskan berbagai aspek sejarahnya. Kegiatan ini tentu memberi pengalaman yang mengesankan. Terlebih bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah, karena pengetahuan mengenai hal itu tidak akan mereka temui di buku pelajaran.

Yang cukup unik adalah ke­giatan Night at The Museum. Ini adalah wisata sejarah ke berbagai museum pada malam hari, seperti Museum Bank Indonesia dan Museum Gajah. Untuk mengikuti kegiatan tersebut, setiap peserta diharuskan membawa berbagai perlengkapan, seperti senter, pakaian yang hangat, dan krim antinyamuk. Semua itu diperlukan karena wisata ini diadakan pada malam hari dengan udara yang dingin dan pencahayaan yang minim. Meski acara ini terkesan angker, jumlah peminatnya mencapai ratusan orang.

Bagi Anda yang tidak punya cukup nyali untuk ikut kegiatan itu, komunitas One Day Traveling mungkin bisa dipertimbangkan. Komunitas yang berdiri sejak 2011 ini mengajak anggotanya menjelajahi lokasi-lokasi wisata di luar Jakarta. Aturan mainnya: tempat itu harus bisa mereka jangkau dengan kendaraan umum dan dinikmati dalam waktu satu hari. "Banyak pegawai kantoran di Jakarta yang sulit mendapatkan waktu libur. Maka, kami buat jadi satu hari," ujar Ari Suharto, 48 tahun, penggagas One Day Traveling.

Aktivitas komunitas ini sangat terukur. Lokasi tujuan harus bisa dijangkau oleh kereta dan bus dalam radius maksimal enam jam. Itu pun mesti dijalani bersama-sama. Tidak boleh ada satu pun anggota mereka yang punya agenda berbeda. Semuanya harus disepakati di awal. Untuk memudahkan mobilitas di kota tujuan, komunitas ini membangun jaringan dengan sejumlah tukang ojek. Merekalah yang berfungsi sebagai pemandu dan mengantar anggota komunitas ini ke tempat-tempat wisata yang telah disepakati.

Kota-kota seperti Cianjur, Garut, Cirebon, dan Purwokerto pernah mereka sambangi. Meski waktunya terbatas, mereka tetap bisa menikmati banyak kegiatan. Saat berkunjung ke Cirebon, misalnya, komunitas ini sempat berkunjung ke Gua Sunyaragi dan berbelanja di toko Batik Trusmi sambil menikmati makanan khas daerah tersebut: nasi jamblang. Salah seorang anggota mereka bahkan pernah ulang-alik ke Medan hanya untuk menikmati makanan khas di sana. "Sayangnya, tidak semua mampu seperti dia," ujar Ari.

Monday, March 31, 2014

Komunitas Backpacker Dunia, Provokasi Anak Muda Keliling Dunia

Suasana gathering Komunitas Backpacker Dunia (Foto: dok. pribadi)
Awalnya sekadar ingin menjadi sarana promosi buku baru, sebuah komunitas pun terbentuk. Inilah Komunitas Backpacker Dunia, tempat kumpul dan berbagi para backpacker Indonesia yang berniat pelesir ke luar negeri.

Mau backpacker-an keliling dunia? Kini, semakin banyak cara yang akan memudahkan impian Anda, salah satunya komunitas berbagi pengalaman liburan murah. Kali ini, Okezone mengulik aktivitas Komunitas Backpacker Dunia, yang terbentuk lewat milis karena ketidaksengajaan pendirinya, Elok Dyah Messwati. Namun sekarang, komunitas ini terus berkembang dan diisi calon wisatawan Indonesia yang berencana pergi ke luar negeri dengan biaya hemat alias backpacker.

“Pas tanggal 5 September 2009, saya aktifkan grup, awalnya hanya untuk promosi buku Backpacking Hemat ke Australia dan mengundang teman-teman untuk datang saat launching,” kata Elok, saat ditemui Okezone di Jakarta, baru-baru ini.

Interaksi di dalam milis terus berlanjut hingga akhirnya tak hanya konten buku tersebut yang didiskusikan, juga berbagai destinasi liburan di seluruh dunia. Akhirnya, kegiatan untuk mendiskusikan dan mempromosikan buku-buku perjalanan dialihkan ke sebuah milis baru bernama Travel Book Lovers.

“Sejak saat itu, grup Backpacker Dunia lebih fokus untuk memprovokasi teman-teman muda di Indonesia yang ingin ke luar negeri,” tuturnya.

Saat ini, Komunitas Backpacker Dunia telah memiliki lebih dari 12.000 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Tak jarang, beberapa grup regional sering berkumpul di daerahnya masing-masing untuk terus mendorong anggota komunitas berkeinginan keliling dunia.

Bahkan, setiap harinya selalu ada anggota baru yang bergabung. Perempuan 43 tahun ini menamakannya dengan ‘terprovokasi’ untuk keliling dunia.

“Saya ingin sebelum mereka lulus kuliah, mereka sudah berhasil keliling Asia Tenggara. Harapannya, mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa perubahan. Kesannya, saya memprovokasi mereka untuk hura-hura, padahal saya ajari untuk nabung. Mereka nabung dan punya target mau ke mana. Rata-rata yang masih kuliah itu nabung dan kerja cari uang tambahan untuk dapat pergi,” ujar perempuan yang sudah keliling 40 negara ini.

Elok menuturkan, seorang anggota Komunitas Backpacker Dunia asal Karawang, Jawa Barat, akhirnya terprovokasi. Pemuda yang masih kuliah tersebut belum pernah ke luar negeri, tetapi kemudian bertekad memulai perjalanannya keliling Asia Tenggara. Untuk perjalanan pertama, dengan modal Rp5 juta dia menjelajahi Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam selama 21 hari. Ketagihan, dia pun mengulangi backpacker-an beberapa bulan setelahnya. Bahkan kini, dia sedang merencanakan perjalanan ke Korea selama 35 hari.

Komunitas Backpacker Dunia merupakan wadah bagi kumpul untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan para anggotanya ke luar negeri sekaligus memprovokasi anggota lain untuk mengikuti jejak mereka. Jika pergerakan Komunitas Backpacker Dunia telah aktif di Pulau Jawa, kini anggota di daerah, seperti Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan, pun mulai bergerak.

“Sebulan sekali selalu ada sharing secara offline. Jadi, kita bertemu di suatu tempat untuk berbagi info, misalnya ada yang pulang dari mana, mereka kasih info. Nanti ada yang cerita, terus ada yang nanya juga. Ada juga yang janjian, misalnya ‘entar kamu bawa peta Korea ya, aku kasih peta Manila’. Atau tukar duit, yang masih ada sisa dari sana, dengan rate khusus teman,” tutur pendiri Komunitas Beautiful Indonesia ini, terkekeh.

Saat ini, pertemuan rutin tak hanya berlangsung di Jakarta, namun juga beberapa kota besar lainnya. Dengan adanya grup-grup regional di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Surabaya, dan Kalimantan Selatan, maka semakin mudah backpacker di luar Jakarta untuk berbagi informasi.

“Sekarang sudah ada grup regional, yang aktif itu Yogyakarta dan Kalsel. Surabaya pun aktif, tapi belum bikin grup regional. Tujuannya agar mereka lebih mudah bertemu, misalnya ada lima orang belum ke luar negeri dan yang 15 lainnya sudah, kan bisa terprovokasi karena para backpacker yang berpengalaman itu nyata di dekat mereka,” tutup perempuan yang biasa backpacker-an bersama sang suami ini.

Sumber: Travel.okezone.com

Saturday, March 29, 2014

4 Komunitas traveling hemat di Indonesia

Tiba masanya liburan! Siapkan koper atau ranselmu untuk berkeliling dunia atau sempatkan waktumu menjelajah kawasan Wisata yang ada di Indonesia. Tak perlu khawatir, jika kamu harus berpergian sendirian, bersama komunitas-komunitas di bawah ini kamu bisa berbagi dan bertanya tentang beragam info perjalanan yang akan kamu tempuh.



Indobackpacker
Komunitas yang menaungi perjalanan Wisata ala backpacker ini merupakan salah satu komunitas yang banyak dikenal oleh para pejalan. Tak hanya mendapat informasi dan tips yang berguna saat melakukan perjalanan sendiri di tujuan Wisata kamu, di komunitas ini kamu juga dapat merencakan liburan bersama dengan anggota Indobackpacker lainnya. Selalu ada cerita baru, pengalaman baru dan teman baru dalam petualangan kamu. http://www.indobackpacker.com

Komunitas Keluar Rumah
Komunitas ini yakin bahwa sebuah perjalanan dimulai saat kamu memutuskan untuk keluar rumah. Komunitas yang dibentuk oleh alumni petualang Aku Cinta Indonesia (ACI) 2010 ini berfokus kepada tujuan-tujuan Wisata di Indonesia. Kamu akan mendapat informasi tentang keanekaragaman budaya yang ada dan indahnya bumi nusantara kita.
https://twitter.com/#!/KeluaRumah

Bikepacker
Ingin mencoba pertualangan yang lebih menantang? Ikuti komunitas Bikepacker yang melakukan perjalanan ransel dengan sepeda. Menempuh rute yang tidak biasa, dijamin pengalaman yang kamu dapatkan lebih dari sekadar perjalanan Wisata. Komunitas ini memiliki sebuah program “Rumah Singgah Bikepacker” yang merupakan tempat singgah sementara bagi setiap petualangan sepeda jarak jauh. http://bikepacker-indonesia.com

CouchSurfing
Saat ini, berWisata dengan dana terbatas bukan menjadi masalah yang besar. Kamu tidak sendirian saat melakukan perjalanan nekat ke luar negeri sekalipun, banyak orang melakukan hal yang sama seperti kamu. Komunitas ini menyediakan akomodasi gratis di negara tujuan bagi seluruh pejalan Wisata yang tergabung dalam CouchSurfing. Seluruh dunia terbuka lebar untukmu. https://www.facebook.com/CouchSurfingIndonesia

Sumber Yahoo

 

Copyright @ 2013 Komunitas.